Menggunakan Deodoran untuk Mengatasi Bau Ketiak, Bahayakah?

deodoran-untuk-mengatasi-bau-ketiakSelain karena makanan (bawang putih, daging, alkohol, dan makanan siap saji), penyebab bau ketiak yang paling dominan adalah keringat berlebih. Keringat berlebih yang bercampur dengan bakteri akan memicu bau ketiak. Lebih dari sekedar akan dijauhi dari pergaulan, lawan jenis pun tidak akan tertarik pedekate apalagi sampai jadian jika bau ketiak. Bertolak dari kondisi ini, sebagian orang berupaya mengatasi bau ketiak dengan menggunakan deodoran. Deodoran memang dapat mengurangi produksi minyak berlebih sekaligus menghambat pertumbuhan bakteri pada ketika sehingga bau ketiak bisa diminimalisir bahkan dihilangkan. Sayangnya, deodoran dapat memicu berbagai dampak buruk berikut:

Meningkatkan resiko kanker payudara

Kanker payudara nyatanya menjadi pembunuh terbesar bagi wanita. Kanker payudara sendiri memiliki gejala sebagai berikut: benjolan kecil pada payudara, kerutan pada payudara, keluar darah dari puting, nyeri pada payudara, dll. Selain obesitas, genetik, rokok, paraben dalam kosmetik, menstruasi dini, dan pertambahan usia, kanker payudara juga bisa dipicu karena penggunaan deodoran. Benarkah? Salah satu kandungan yang terdapat dalam deodoran adalah senyawa aluminium. Senyawa ini nyatanya bakal mempengaruhi hormon estrogen (membantu perkembangan & pembesaran payudara) & kelenjar payudara. Jika terlalu berlebihan dalam penggunaannya, senyawa ini dapat menjadi penyebab perkembangan kanker payudara. Kandungan lain dalam deodoran yang dicurigai menimbulkan dampak buruk serupa adalah paraben.

Menganggu kesehatan janin

Paraben yang terkandung dalam deodoran untuk mencegah keringat berlebih ternyata memberikan dampak buruk terhadap kesehatan janin. Janin berpotensi lahir cacat atau lahir prematur akibat paraben dalam deodoran. Di samping itu, phthalates juga sering kali ditemukan dalam deodoran. Apa fungsinya? Sejatinya, phthalates sendiri merupakan bahan kimia yang dipergunakan untuk melenturkan plastik yang akan diolah untuk berbagai perlengkapan rumah tangga dan mainan. Namun, phthalates juga sering digunakan dalam berbagai produk kecantikan seperti bedak, cat kuku, termasuk deodoran untuk tujuan mempertahankan wangi.  Phthalates dapat masuk ke plasenta sehingga dapat diterima bayi saat masih dalam kandungan. Bayi berpotensi lahir prematur karena pengaruh phthalates. Ingat, kelahiran prematur menjadi salah satu pemicu kematian terbesar pada bayi. Lebih luas lagi, phthalates dapat memicu kerusakan organ reproduksi & saraf.

Bertolak dari dua dampak buruk di atas, sebisa mungkin hindari penggunaan deodoran terutama dalam kondisi hamil. Lantas, apakah membiarkan diri bau ketiak dengan tidak menggunakan deodoran? Jauh lebih aman jika mengobati bau ketiak dengan menggunakan bahan alami. Di samping itu, jika tepat & rutin pemakaiannya bau ketiak berpotensi hilang total. Berikut beberapa bahan alami yang dapat mengatasi bau ketiak:

  • Daun kemangi. Siapa sih yang tidak kenal dengan daun kemangi? Daun yang sering kali digunakan untuk campuran pindang serta dimakan sebagai lalapan ini memiliki rasa yang sedikit pedas. Bagi yang merasa bau ketiak, silakan manfaatkan daun kemangi untuk mengatasinya. Caranya? Rebus daun kemangi dengan 2 gelas air dan sisakan 1 gelas. Setelah mendidih, angkat, dan minum selagi hangat. Lakukan 2 – 3 kali seminggu.
  • Jeruk nipis. Jeruk nipis tidak hanya menunjang diet, tetapi juga membantu menghilangkan bau badan. Bagaimana caranya? Peras jeruk nipis, tambahkan kapur, & lumatkan daun sirih. Kemudian, gunakan ramuan tersebut untuk mengatasi bau ketiak dengan membalurkannya pada ketiak. Lakukan 2 – 3 kali seminggu.
  • Cengkeh. Cengkeh, bumbu dapur yang berbentuk mungil, beraroma kuat, dan berasa pedas yang juga bisa dimanfaatkan untuk mengatasi bau ketiak. Caranya? Rendam cengkeh di dalam segelas air hangat, diamkan hingga cengkeh mengambang, tambahkan madu murni, lalu diminum. Lakukan 2 – 3 kali seminggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *