Mengapa Wanita Sering Menghadapi Kerutan pada Kulit dan Wajah?

Tidak dapat dipungkiri bahwa ada banyak wanita di luar sana yang usianya masih muda tapi sudah terlihat tua. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kerutan pada kulit dan wajah mereka. Masalah kecantikan yang satu ini cukup membuat para wanita merasa stres karena otomatis penampilan mereka akan menurun dan membuat orang-orang yang dulunya menyanjungnya pada akhirnya meninggalkan mereka. Jika dibandingkan dengan pria, tentu banyak ahli dan penelitian yang sudah menyebutkan bahwa wanita lebih cepat terlihat tua dibandingkan wanita. Sebenarnya apa alasannya?

kerutan

Kelenjar minyak yang sedikit

Para pria memiliki kelenjar minyak yang lebih banyak dibandingkan para wanita. Kelenjar minyak ini berfungsi untuk membuat kulit lembab dan lembut sehingga kerutan di kulit dan wajah bisa tersamarkan. Karena wanita memiliki kelenjar minyak yang sedikit, maka seiring bertambahnya umur mereka, kelenjar minyak tersebut akan semakin sedikit diproduksi. Kondisi ini akan semakin parah apabila wanita tidak menerapkan hidup sehat. Itu artinya bahwa mereka suka merokok, begadang, makan dan minum produk siap saji, malas berolahraga, dan lain sebagainya.

Kurang hormon estrogen

Sama halnya dengan kelenjar minyak, hormon estrogen pada wanita juga terbilang lebih sedikit dibandingkan dengan pria. Padahal hormon ini berfungsi untuk mengencangkan dan menyehatkan kulit. Semakin bertambahnya umur wanita, produksi hormon estrogen di dalam tubuh mereka semakin sedikit sehingga wajah mereka akan terlihat tua apabila tidak memakai makeup atau produk kecantikan yang berguna untuk menyehatkan dan mengencangkan kulit dan wajah.

Kebiasaan buruk

Seperti sudah disebutkan di atas, kebiasaan buruk dapat membawa dampak negatif pada penampilan wanita. Pada umumnya wanita dengan pola atau gaya hidup yang tidak sehat akan terlihat sudah berusia 40-an padahal umurnya masih 20-an. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini disebabkan karena kebiasaan buruk tersebut membuat kondisi kulit dan wajah mereka tidak lembab dan kotor sehingga kerutan dengan mudah muncul di mana-mana. Sebagai contoh, apabila wanita suka merokok, asap rokok yang mengandung racun akan membuat kulit dan wajah mereka kering dan kotor. Hal inilah yang akan memicu timbulnya kerutan dan juga jerawat. Contoh lainnya, jika wanita malas berolahraga, kondisi fisiknya akan terus menurun sehingga sistem syaraf dan metabolisme tidak akan bekerja secara maksimal. Akan ada banyak toksin di dalam tubuh mereka yang mana juga bisa mempengaruhi kesehatan dan kekencangan kulit mereka. Dampak ini mungkin tidak akan terlihat secara instan. Namun, lambat laun, kerutan akan terlihat dengan jelas di beberapa bagian kulit dan wajah.

Penyebab lainnya adalah wanita suka sekali mengalami tekanan batin atau stres. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa wanita banyak melakukan tindakan berdasarkan perasaan mereka. Ketika mereka menghadapi masalah baik itu masalah kecil atau besar, mereka akan merasa tertekan. Biasanya mereka mengerutkan kening mereka ketika hal ini terjadi. Hal sepele ini pun pada akhirnya dapat membuat kerutan di wajah mereka akan terlihat. Selain itu, para wanita akan kesulitan untuk tidur ketika mereka mengalami masalah sehingga proses regenerasi kulit mereka terganggu. Sadari bahwa apabila hal ini terjadi, sel kulit mati akan terus menumpuk dan menyebabkan kulit kotor dan kering. Pada akhirnya, kerutan pun akan muncul dan terlihat jelas.

Apabila Anda adalah seorang wanita yang tidak ingin pusing dengan masalah kerutan di kulit dan wajah, sebaiknya terapkan pola hidup sehat dan rajin-rajinlah melakukan perawatan wajah dan kulit.

Menggunakan Deodoran untuk Mengatasi Bau Ketiak, Bahayakah?

deodoran-untuk-mengatasi-bau-ketiakSelain karena makanan (bawang putih, daging, alkohol, dan makanan siap saji), penyebab bau ketiak yang paling dominan adalah keringat berlebih. Keringat berlebih yang bercampur dengan bakteri akan memicu bau ketiak. Lebih dari sekedar akan dijauhi dari pergaulan, lawan jenis pun tidak akan tertarik pedekate apalagi sampai jadian jika bau ketiak. Bertolak dari kondisi ini, sebagian orang berupaya mengatasi bau ketiak dengan menggunakan deodoran. Deodoran memang dapat mengurangi produksi minyak berlebih sekaligus menghambat pertumbuhan bakteri pada ketika sehingga bau ketiak bisa diminimalisir bahkan dihilangkan. Sayangnya, deodoran dapat memicu berbagai dampak buruk berikut:

Meningkatkan resiko kanker payudara

Kanker payudara nyatanya menjadi pembunuh terbesar bagi wanita. Kanker payudara sendiri memiliki gejala sebagai berikut: benjolan kecil pada payudara, kerutan pada payudara, keluar darah dari puting, nyeri pada payudara, dll. Selain obesitas, genetik, rokok, paraben dalam kosmetik, menstruasi dini, dan pertambahan usia, kanker payudara juga bisa dipicu karena penggunaan deodoran. Benarkah? Salah satu kandungan yang terdapat dalam deodoran adalah senyawa aluminium. Senyawa ini nyatanya bakal mempengaruhi hormon estrogen (membantu perkembangan & pembesaran payudara) & kelenjar payudara. Jika terlalu berlebihan dalam penggunaannya, senyawa ini dapat menjadi penyebab perkembangan kanker payudara. Kandungan lain dalam deodoran yang dicurigai menimbulkan dampak buruk serupa adalah paraben.

Menganggu kesehatan janin

Paraben yang terkandung dalam deodoran untuk mencegah keringat berlebih ternyata memberikan dampak buruk terhadap kesehatan janin. Janin berpotensi lahir cacat atau lahir prematur akibat paraben dalam deodoran. Di samping itu, phthalates juga sering kali ditemukan dalam deodoran. Apa fungsinya? Sejatinya, phthalates sendiri merupakan bahan kimia yang dipergunakan untuk melenturkan plastik yang akan diolah untuk berbagai perlengkapan rumah tangga dan mainan. Namun, phthalates juga sering digunakan dalam berbagai produk kecantikan seperti bedak, cat kuku, termasuk deodoran untuk tujuan mempertahankan wangi.  Phthalates dapat masuk ke plasenta sehingga dapat diterima bayi saat masih dalam kandungan. Bayi berpotensi lahir prematur karena pengaruh phthalates. Ingat, kelahiran prematur menjadi salah satu pemicu kematian terbesar pada bayi. Lebih luas lagi, phthalates dapat memicu kerusakan organ reproduksi & saraf.

Bertolak dari dua dampak buruk di atas, sebisa mungkin hindari penggunaan deodoran terutama dalam kondisi hamil. Lantas, apakah membiarkan diri bau ketiak dengan tidak menggunakan deodoran? Jauh lebih aman jika mengobati bau ketiak dengan menggunakan bahan alami. Di samping itu, jika tepat & rutin pemakaiannya bau ketiak berpotensi hilang total. Berikut beberapa bahan alami yang dapat mengatasi bau ketiak:

  • Daun kemangi. Siapa sih yang tidak kenal dengan daun kemangi? Daun yang sering kali digunakan untuk campuran pindang serta dimakan sebagai lalapan ini memiliki rasa yang sedikit pedas. Bagi yang merasa bau ketiak, silakan manfaatkan daun kemangi untuk mengatasinya. Caranya? Rebus daun kemangi dengan 2 gelas air dan sisakan 1 gelas. Setelah mendidih, angkat, dan minum selagi hangat. Lakukan 2 – 3 kali seminggu.
  • Jeruk nipis. Jeruk nipis tidak hanya menunjang diet, tetapi juga membantu menghilangkan bau badan. Bagaimana caranya? Peras jeruk nipis, tambahkan kapur, & lumatkan daun sirih. Kemudian, gunakan ramuan tersebut untuk mengatasi bau ketiak dengan membalurkannya pada ketiak. Lakukan 2 – 3 kali seminggu.
  • Cengkeh. Cengkeh, bumbu dapur yang berbentuk mungil, beraroma kuat, dan berasa pedas yang juga bisa dimanfaatkan untuk mengatasi bau ketiak. Caranya? Rendam cengkeh di dalam segelas air hangat, diamkan hingga cengkeh mengambang, tambahkan madu murni, lalu diminum. Lakukan 2 – 3 kali seminggu.